ROSWATI
soebadar
“wanita adalah pilar-pilar peradaban: akan hampa dan mustahil tanpa keberadaannya, dan akan memuing belaka tanpa rahim sucinya. Di sana, harkat dan martabat semesta dipertaruhkan.”
Para pejantan garuda-desa belum juga kunjung mengumandangkan seruannya. Di hamparan payung semesta, kekerlip bintang-gemintang pun masih asyik bercengkrama. Para pewaris peradaban desa juga masih meringkuk manja begitu saja di ketiak-ketiak para ibu mereka. Para dua sejoli juga sudah tergeletak lelap, seiring sirnanya semangat tanpa tepi yang semula mereka kobarkan dalam jihad. Para peronda yang semula gagah perkasa, sudah terkulai mengiba di dalam sarung-sarung mereka, meringkuk memohon suaka dari ganasnya laskar malam yang berderap memenuhi penjuru semesta. Pastinya, desa itu masih lumpuh, meski mimpi akan sebuah peradaban besar masih bersemayam di atas bantal-bantal para khalifahnya. Di seberang itu, makhluk-makhluk cahaya terasa sibuk. Tanpa berkedip mereka berusaha mengamati seluruh penjuru desa. Naik ke singgasana dan turun ke desa, mengabarkan apa yang mereka saksikan, menebarkan apa yang telah diembankan. Komitemen, konsistensi dan kapabilitas mereka memang luar biasa. Konon, mereka adalah para pesuruh Sang Hyang Kuasa yang paling setia, diam mereka pun adalah karena perintah. Konon, situasi desa demikian ini adalah situasi yang paling berkah. Situasi di mana kasih sayang Sang Hyang Kuasa beterbangan memenuhi angkasa, mencari pribadi-pribadi yang tepat untuk mereka singgah-rasuki.
Di situasi demikian itu, seorang wanita desa tengah menunduk mencium pelataran semesta. Dari apa yang disikapkan, nampaknya ia sedang sujud. Dari rasa yang menyelimuti, dia sebenarnya tengah memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Hyang Kuasa. Atas apa ia syukur? Mungkin, atas segenap karunia dan nikmat Sang Hyang Kuasa kepada dia. Karunia dan nikmat yang mana maksud dia? Dari segi ekonomi, dia hanyalah golongan kelas dua, bahkan tiga. Dari segi politik, ia tidaklah lebih tinggi dari bayan desa. Dari segi sosial, tentu ia tidak lebih terhormat dari para orang di golongan ekonomi kelas pertama. Suatu ketika, aku memberanikan diri untuk menegur, “Atas apa kiranya engkau bersyukur? Adakah kiranya engkau telah merasa mendapat nikmat dan karunia-Nya?” Dengan lembut ia membelai, “Bukankah sesuatu yang tidak bisa diukur itu seharusnya lebih tinggi ketimbang sesuatu yang bisa diukur?!” Aku tersadar, ternyata bahwa ukuran dunia bukanlah hanya itu, masih ada ukuran lain yang lebih tinggi, yaitu sesuatu yang tidak bisa diukur.
Sebelum raja siang menampakkan diri, sang wanita sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan keluarganya selama sehari nanti. Di antara reriung para anak-anaknya, dia sudah menyajikan bahan pembentuk raga, meski bagi yang lain tentunya ala-kadarnya. Tak lupa, ia memeriksa dan merapikan seragam anak-anaknya, lantas mengantar mereka sampai pelataran rumah dan membekali mereka dengan beberapa do’a, nasihat dan piwanti. Usai memastikan seluruh isi rumah dan kondisinya sudah beres, ia melangkah ke luar desa menyusuri pematang, bermaksud menemani dan membawakan bahan pembentuk raga bagi sang suami yang telah berangkat lebih dulu tadi.
Guliran roda waktu akhirnya menuntun raja siang bertahta di tengah cakrawala. Sebelum bebulir peluh di tubuhnya yang dibawa dari sawah tadi itu menanggal, sang wanita sudah terlihat sibuk. Mula-mula ia pergi ke dapur untuk memastikan dan mempersiapkan keberadaan makan siang bagi keluarga, tentu bagi yang lain juga pasti dibilang ala-kadarnya. Di gilirannya, ia pergi menghampiri anak-anaknya, guna menebarkan kasih dan sayangnya kepada mereka, sebelum akhirnya meminta mereka untuk mandi satu persatu. Pasca dirasa semua sudah siap, sang wanita memanggil-manggil seluruh keluarga dan mendahului mereka ke ruang makan. Satu persatu, ia memberikan piring beserta perabot makan lain kepada mereka. Sebelum nampak oleh dia bahwa semuanya telah lahap, butir-butir nasi yang masuk dimulutnya tidak akan bisa ia telan dengan tenang. Usai semua keadaan rumah di rasa sudah beres kembali, sang wanita dan sang suami akhirnya kembali ke sawah, guna merampungkan agenda revolusi yang belum selesai.
Ketika malam menyelimuti dengan pelbagai sasmitanya, dan makan malam pun telah usai dilangsungkan, sang wanita menemani belajar anak-anaknya satu persatu. Setelah memastikan mereka telah usai belajar, sang wanita pun mempersilahkan mereka untuk sedikit menghibur diri dengan menonton televisi. Pada akhirnya, sang wanita pun mengharap mereka satu persatu untuk beristirahat. “Agar kalian bisa bangun pagi dengan segar,” katanya, “Jangan lupa memanjatkan syukur dan berdo’a. Semoga mimpi indah! Ohya, jangan lupa mengambil pelajaran dari itu semua.”
Tiba-tiba aku menjadi gusar: “Dia itu ibuku, atau ibu dari anak-anakku? Ah, yang jelas ia adalah wanitaku!”
Soebadar: sela senja Lentera Badai
(Senin, 26 Mei 2008)